Identifikasi Telur Cacing pada Saluran Pencernaan Satwa Liar yang Dipelihara Masyarakat di Manokwari, Papua Barat

Identification of Worm Eggs in the Digestive Tract of Wild Animals Maintained by the Community in Manokwari, West Papua

  • Dwi Nurhayati ProgramStudi D3 Kesehatan Hewan Fakultas Peternakan UNIPA
  • Alnita Baaka Program Studi D3 Kesehatan Hewan Fakultas Peternakan UNIPA
  • Freddy Pattiselanno Universitas Papua, Manokwari

Abstract

Investment of parasitic worms of captive wildlife was an impact on their health condition. This study was conducted to determine the intensity of parasitic worm infection in wild animals kept by communities in Manokwari, West Papua. The Natif method was used, by centrifuge of 20 birds and 20 mammals (Kangaroo and Deer) faeces collected from the sites. Sampling was carried out from October to November 2016. The analysis of collected faecal samples showed that bird species were not indicated (negatively infected by worm). In mammals, Nematodes and cestodes were found. Identification of existing findings showed that 3 (three) types of worm eggs were found, namely Taenia sp in kangaroos (Macropodidae), Ascaris sp (berembrio), and stronyle sp in deer (Cervus timorensis). The highest parasites intensity was stronyle sp (10 worm eggs) and the lowest intensity was Ascaris sp (3 worm eggs) .The rate of infection and investment of parasitic worm eggs in wild animals in Manokwari was categorised relatively low.

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biography

Freddy Pattiselanno, Universitas Papua, Manokwari

Fakultas Peternakan

References

Achmad A dan Nurdin D. 2010. Potensi dan Kebijakan Pengelolaan Satwa Liar di Hutan Pendidikan Unhas. Prosiding hasil Litbang Mendukung Rehabilitasi dan Konservasi Hutan untuk Kesejahteraan Masyarakat. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi.
Andriansyah, Candra D, Agil M, Handayani SU dan Tiuria R. 2008. Diseases Surveillance around Way Kambas National Park to support Sumatran rhino conservation and health. Proceedings of Asian Zoo Wildlife Medicine and Conservation, Bogor, Indonesia 19-22 August 2008. p. 128-129
Arifin C. dan Soedarmono. 1982. Parasit Ternak dan Cara Penanggulagannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Basrul J. 2015.Identifikasi Endoparasit Pada Saluran Pencernaan Rusa Tutul (Axis-Axis) Di Taman Pintu Satu Universitas Hasanuddin Makassar. [Skipsi]. Makassar. Universitas Hasanuddin.
Brown HW. 1979. Dasar Parasitologi Klinis. P.T Gramedia. Jakarta: xiv+535 Hlm.
Dirjen Peternakan. 1999. Manual Standar Metode Diagnosa Laboratorium Kesehatan Hewan Edisi I. Direktorat Bina Produksi Kesehatan Hewan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Rozi F, Handoko J dan Febriyanti R. 2015. Infestasi Cacing Hati (Fasciola sp.) dan Cacing Lambung (Paramphistomum sp.) pada Sapi Bali Dewasa di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. JSV. Vol 33 No. 1:8-15. 2015.
Larasati H, Hartono M dan Siswanto, “Prevalensi Cacing Saluran Pencernaan Sapi Perah Periode Juni˗˗juli 2016 Pada Perusaan Rakyat di Provinsi Lampung”, Jurnal Penelitian Perusaan Indonesia. Vol 1 No. 1: 8 – 15. 2016.
Hambal M, Arman S dan Agus D. 2013. Tingkat Kerentanan Fasciola gigantica Pada Sapi Dan Kerbau Di Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Medika Veterinaria. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Vol 7 [1].
Hendrix CM and Robinson E. 2006. Diagnoctic Parasitology for Veterinary Technicians. Third Edition. Mosby Elsevier Inc. St. Louis, Missouri.
Koibur J, Lalenoh DM dan Pattiselanno F. 2017. Memelihara paruh bengkok sebagai hewan kesenangan di Manokwari. Konferensi Peneliti dan Pengamat Burung Indonesia 3. Universitas Udayana, Bali.
Zalizar L. 2017. Helminthiasis Saluran Cerna Pada Sapi Perah, Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan. Vol 27 No. 7:1-7
Levine G. 1994. Veterinary Parasitology. Edisi ke-3 Colage of Veterinery Medicine. University of Illinois. Urbana. Illonois.
Indradji M, Yuwono E, Indrasanti D, Samsi M, Sufiriyanto AR, Herlan B dan Herdiana, Studi Kasus Tingkat Infeksi Cacing Pada Perusaan Kambing Boer di Kabupaten Banyumas. Jurnal Ilmiah Perusaan Terpadu. Vol 6 No. 1: 93-96. 2018.
Margono SS. 1996. Pemeriksaan tanah, debu, usap jari dan kotoran kuku terhadap telur A. Lubricoides. Majalah Kedokteran Indonesia. Vol 46, No 11. Hal 621-626.
Mohr JC. 1957. Parasit-Parasit Hewani Jang Utama Pada Manusia. Bagian I. Protozoa danVermes. Fakultas Kedokteran Negeri Medan.
Muryani A, Tiuria R, Andriansyah dan Agil M. 2008. Helminthes parasite at feces of Sumatran rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis) dan Sumatran Elephant (Elephas maximus sumatranus) in Way Kambas National Park Lampung (semi in-situ). Proceedings of Asian Zoo Wildlife Medicine and Conservation, Bogor, Indonesia 19-22 August 2008. p142
Mustika I dan Riza ZA. 2004. Peluang pemanfaatan jamur nematofagus untuk mengendalikan nematoda parasit pada tanaman dan rusa. Jurnal Litbang Pertanian. Vol 23 No. 4:115˗122.
Muthiadin C, Aziz IR dan Fitriyana. 2018. Identifikasi dan Prevalensi Telur Cacing Parasit Pada Feses Sapi (Bos, sp) Yang Digembalakan di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa Makassar. Biotropic the Journal of Tropical Biology. Vol 2 No. 1:17-23.
Trikanti N. 2013. Hubungan Pengetahuan Tentang Kecacingan dan Jenjang Kelas Dengan Kejadian Kecacingan Soil Transmitted Helminth (STH) Pada Siswa Kelas 4, 5 dan 6 SD Negeri 1 Pinang Jaya. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Handayani P, Santosa PE dan Siswanto. 2015. Tingkat Infestasi Cacing Saluran Pencernaan pada Sapi Bali di Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung. Jurnal Ilmiah Perusaan Terpadu. Vol 3 No. 3: 127-133.
Pattiselanno F. 2003. The wildlife value: Example from West Papua, Indonesia. Tigerpaper 30 (1): 27-29
Pattiselanno F. 2006. The wildlife hunting in Papua. Biota 11(1): 59-61
Pattiselanno F, Isir D, Takege A dan Seseray D. 2008. Kajian awal penangkaran rusa (Cervus timorensis) sistem back yard di Manokwari. Biosfera 25(2): 95-100
Purnomo, Magdalena, Ayda dan Harijani. 1996. Atlas Helminthologi Kedokteran. PT. Gramedia. Jakarta
Purwaningsih, Noviyanti, Widayati I, Nurhayati D and Baaka A. 2016. Differences in The Rearing System toward Bali Cattle Gastrointestinal Helminths Infestation in Prafi District, Manokwari Regency, West Papua Province. 1st International Conference on Tropical Agriculture (ICTA). October 25-26, 2016. Yogyakarta.
Garsetiasih R, Heriyanto dan Atmaja J. 2007. Pemanfaatan Dedak Sebagai Pakan Tambahan Rusa. Buletin Plasma Nutfah. Vol 9 No. 2: 23-27.
Hasan S. 2012. Hijauan Pakan Tropik. IPB Press. Hal: 112. Bogor.
Shaikenov BT. 2004. Short Report the Use Of Polymerase Chain Reaction to Detect Echinococcus granulosus (GI Strain) Eggs in Soil Samples. AM.J.Tropic.
Mulyadi T, Siswanto dan Hartono M. 2017. Prevalensi Cacing Saluran Pencernaan Pada Kambing Peranakan Etawa (PE) di Kelompok Tani Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran Lampung. Jurnal Riset dan Inovasi Perusaan. Vol 2 No. 2:21-26.
Pratiwi U. 2010. Infestasi Cacing Parasitik pada Harimau (Panthera tigris) di Taman Rekreasi Margasatwa Serulingmas, Kebun Binatang Bandung dan Taman Safari Indonesia. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.
Widjajanti S. 2004. Fasciolosis pada manusia: mungkinkah terjadi di Indonesia. Buletin Ilmu Peternakan Indonesia, 14(2): 65-72
Published
2021-07-30
How to Cite
NURHAYATI, Dwi; BAAKA, Alnita; PATTISELANNO, Freddy. Identifikasi Telur Cacing pada Saluran Pencernaan Satwa Liar yang Dipelihara Masyarakat di Manokwari, Papua Barat. Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science), [S.l.], v. 11, n. 2, p. 165 – 172, july 2021. ISSN 2620-9403. Available at: <https://journal.fapetunipa.ac.id/index.php/JIPVET/article/view/159>. Date accessed: 17 sep. 2021. doi: https://doi.org/10.46549/jipvet.v11i2.159.

Most read articles by the same author(s)