Silvikultur Intensif Merbau kepada Pengelola Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Papua

Merbau Intensive Silvicultural to Forest Utilization Business Licensing (FUBL) in Papua

Main Article Content

Julius D. Nugroho
Hans Peday
Hendri
Jonni Marwa
Mutakim Takim

Abstract

ABSTRACT 

Forest Utilization Business Licensing (FUBL) in Papua has been practicing a silvicultural system for a long time, but the results are still not optimal. Various obstacles in the field such as seed preparation, nursery, planting, and maintenance are still not optimal. Not to mention the erratic fruiting time of Merbau stands and competition from seed-eating pests. This condition can affect the distribution and growth of Merbau stands. One of the reasons is that FUBL has not yet practiced the Merbau Silvicultural Intensive (SILIN) system. Merbau stands are commercial and endemic to Papua, belonging to the class I-II sturdy wood, having hard, sturdy, and durable properties. Currently, merbau is considered a valuable type of wood in the Southeast Asian region and this species is one of the leading species for the Papua region in terms of forest exploitation. This community service activity aims to increase the participants' knowledge, expertise, and understanding of the SILIN Merbau method. This PKM activity was carried out at PT. Wijaya Sentosa in Dusner Village, Kuri Wamesa District, Teluk Wondama Regency on September 5 and 6 2022. The method used in this community service program is community development practice, equipped with a participatory and educative approach with outreach, training, field practice, mentoring, and evaluation. This activity has succeeded in increasing the knowledge, understanding, skills, and independence of training participants, especially FUBL in Papua. 

Keywords: FUBL; Intensive silviculture; Merbau stands

 

ABSTRAK

Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Papua telah mempraktikkan sistem silvikultur sejak lama, tetapi hasilnya masih belum optimal. Bermacam hambatan di lapangan seperti persiapan benih, persemaian, penanaman serta pemeliharaan yang masih kurang maksimal. Belum lagi adanya waktu berbuah tegakan Merbau yang tidak menentu dan terdapatnya persaingan dengan hama pemakan biji. keadaan ini bisa mempengaruhi sebaran serta perkembangan tegakan Merbau. Salah satu penyebabnya adalah karena PBPH belum mempraktikkan sistem SILIN Merbau. Tegakan Merbau merupakan kayu komersial serta endemik Papua yang masuk kelas kokoh kayu I- II, mempunyai sifat keras, kokoh serta awet. Saat ini, merbau dianggap sebagai salah satu tipe kayu berharga di wilayah Asia Tenggara serta jenis ini ialah salah satunya jenis unggulan untuk wilayah Papua di dalam hasil pengusahaan hutan. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian serta pemahaman partisipan terhadap metode SILIN merbau. Kegiatan PKM ini dilaksanakan di PT. Wijaya Sentosa di Kampung Dusner, Distrik Kuri Wamesa, Kabupaten Teluk Wondama pada tanggal 05 dan 06 bulan September tahun 2022. Metode yang digunakan dalam program PKM ini adalah community development practice, dilengkapi pendekatan partisipatif serta edukatif dengan sosialisasi, Pelatihan, Praktik lapangan, pendampingan serta evaluasi. Kegiatan ini telah berhasil meningkatkan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan serta kemandirian partisipan pelatihan, kususnya PBPH yang terdapat di Papua.

Kata kunci: PBPH; Silvikultur intensif; Tegakan merbau

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Nugroho, J. D. ., Peday, H. ., Hendri, H., Marwa, J. ., & Takim, M. (2024). Silvikultur Intensif Merbau kepada Pengelola Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Papua: Merbau Intensive Silvicultural to Forest Utilization Business Licensing (FUBL) in Papua . IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(1), 1–17. https://doi.org/10.46549/igkojei.v5i1.416
Section
Articles
Author Biographies

Julius D. Nugroho, Universitas Papua, Manokwari, Indonesia

Fakultas Kehutanan, Universitas Papua Jalan Gunung Salju, Amban Manokwari, 98314

Hans Peday, Universitas Papua, Manokwari, Indonesia

Fakultas Kehutanan, Universitas Papua Jalan Gunung Salju, Amban Manokwari, 98314

Hendri, Universitas Papua, Manokwari, Indonesia

Fakultas Kehutanan, Universitas Papua Jalan Gunung Salju, Amban Manokwari, 98314

Jonni Marwa, Universitas Papua, Manokwari, Indonesia

Fakultas Kehutanan, Universitas Papua Jalan Gunung Salju, Amban Manokwari, 98314

References

Anonim, 2014. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Nomor: P.65/MENHUT-II/2014. Jakarta. Departemen Kehutanan RI.

Baharinawati, W. H., El-Halim, R. M., & Setiadi, A. 2011. Kajian efektivitas sistem silvikultur TPTI terhadap kelestarian produksi hutan alam lahan kering Di IUPHHK PT. Mamberamo Alas Mandiri Kabupaten Mamberamo Raya dan PT. Tunas Timber Lestari Kabupaten Boven Digoel Provinsi Papua. Balai Penelitian Kehutanan Manokwari.

Cleary, D.R., Boyle, T.J.B., Setyawati, T., Anggraeni, C., Van Loon, E.E., Menken, S.B.J. 2007. Bird species and traits associated with logged and unlogged forest in Borneo. Ecological Applications, 17(4); 1184-1197.

https://doi.org/10.1890/05-0878

Darma, D., Reniana, R., Santoso, B., & Mangallo, B. 2023. Pengembangan industri pengolahan sagu skala rumah tangga di Kabupaten Teluk Wondama Provinsi Papua Barat: Development of home industry sago processing in Teluk Wondama Regency, West Papua Province. IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(2); 86-95.

https://doi.org/10.46549/igkojei.v4i2.384

Edwards, D.P., Larsen, T.H., Docherty, T.D.S., Ansell, F.F., Hsu, W.W., Derhe, M.A., Hamer, K.C., Wilcove, D.S. 2011. Degraded lands worth protecting: the biological importance of Southeast Asia's repeatedly logged forests. Proceeding of The Royal Society B 278: 82-90, Doi:10.1098/rspb.2010.1062.

https://doi.org/10.1098/rspb.2010.1062

Elias, 2013. Kebijakan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Dan Penerapan Multisistem Silvikultur

Ernst, R., Linsenmair, K.E., Rodel, M. 2006. Diversity erosion beyond the species level: Dramatic loss of functional diversity after selective logging in two tropical amphibian communities. Biological Conservation, 133, 143-155. Doi:10.1016/j.biocon.2006.05.028.

https://doi.org/10.1016/j.biocon.2006.05.028

Herliana, O., Rokhminarsi, E., Iqbal, A., & Kartini, K. 2019. Pelatihan Pembibitan Anggrek secara Vegetatif, Generatif dan Kultur Jaringan pada Paguyuban Mantan Buruh Migran "SERUNI" Kabupaten Banyumas. LOGISTA-Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 3(2); 61-69.

https://doi.org/10.25077/logista.3.2.61-69.2019

Limbongan, J dan Djufri, F. 2013. Pengembangan teknologi sambung pucuk sebagai alternatif pilihan perbanyakan bibit kakao.

Mathis RL, Jackson JH. 2002. Manajemen Sumberdaya Manusia (terjemahan). Edisi Pertama. Buku dua. Jakarta (ID): Salemba Empat.

Nugroho D. Julius dan Mansur Irdika. 2020. Taksonomi, Ekologi dan Silvikultur Merbau. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah. Manokwari.

Nurtjahjawilasa, Duryat, K., Yasman, I., Septiani, Y., Lasmini. 2013. Konsep dan Kebijakan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Implementasinya. Jakarta: Program Terestrial The Nature Conservancy Indonesia.

Narwoko JD, Suyanto B. 2011. Sosiologi Teks dan Pengantar Terapan. Edisi Keempat. Jakarta (ID): Kencana.

Perizinan Berusaha dalam UU Cipta Kerja. 2021. September 20, 2022. Forestdigest.com website: https://www.forestdigest.com/detail/1286/apa-itu-perizinan-berusaha

Purba, C.P.P, Nanggara, S.G., Ratriyono, M., Apriani, I., Rosalina, L., Sari, N.A., Meridian, A.H. 2014. Potret Keadaan Hutan Indonesia 2009 - 2013. Bogor: Forest Wacth Indonesia.

Putz, F. E., & Romero, C. 2014. Futures of tropical forests (sensu lato). Biotropica, 46(4), 495-505.

https://doi.org/10.1111/btp.12124

Rukmana, R. 2005. Teknik memproduksi bibit unggul tanaman buah-buahan.

Schmidt, L. 2002. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Subtropics 2000. Jakarta: Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan.

Tavankar, F., Bonyad, A.E. 2015. Effects of timber harvest on structural diversity and species composition in hardwood forests. Biodiversitas, 16(1), 1-9. DOI: 10.13057/biodiv/d160101.

https://doi.org/10.13057/biodiv/d160101

Widiyatno, W., Soekotjo, S., Naiem, M., Hardiwinoto, S., & Purnomo, S. 2011. Pertumbuhan meranti (Shorea spp.) pada sistem tebang pilih tanam jalur dengan teknik silvikultur intensif (TPTJ-SILIN). Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 8(4); 373-383.

https://doi.org/10.20886/jphka.2011.8.4.373-383

Yuniar, M. 2013. 33,6 juta hektare hutan produksi terlantar. http://bisnis.tempo.co/read/news/2013/09/ 04/090510218/33-6-juta-hektare-hutanproduksi-telantar. Diakses 26 Juni 2015.

Most read articles by the same author(s)